Kompetisi Google: Pelajar Indonesia Raih Prestasi di Kancah Internasional

Kompetisi Google: Pelajar Indonesia Raih Prestasi di Kancah Internasional

(Istimewa)

(rel/rzd)

Rabu, 29 Mei 2019 | 20:02

Analisadaily - Beberapa waktu terakhir ini diwarnai dengan berbagai prestasi di bidang sains dan coding, seiring semakin banyaknya pelajar Indonesia yang mengikuti program dan kompetisi yang disponsori oleh Google.

Kompetisi yaitu Google -Code-i (GCI). Pada kompetisi ini Indonesia memiliki satu pemenang di tahun 2018, Reza Juliandri, seorang pelajar berusia 17 tahun dari SMKN 5 Tangerang, Banten.

GCI adalah kompetisi pemrograman tahunan yang mengenalkan pelajar pra-kuliah (usia 13-17) pada pengembangan software open-source. Sejak tahun 2010, lebih dari 8.000 pelajar dari 107 negara telah menyelesaikan lebih dari 40.000 tugas open-source.

Pada tahun 2018 terdapat 15.323 tugas yang diselesaikan bersama 27 organisasi open-source. Reza adalah salah satu dari 54 pemenang Hadiah Utama dari 19 negara yang bersama-sama telah berhasil menyelesaikan 1.668 tugas.

Bulan depan, Reza akan menghadiri acara penutupan yang diadakan pada 27 Juni 2019 di kantor pusat Google di California untuk bertemu dengan para mentor mereka dan beberapa engineer Google.

Kemudian Google Science Fair (GSF). Celestine Wenardy dan Nicholas Patrick dari Indonesia telah terpilih dari 100 finalis internasional (termasuk 34 orang dari Asia Pasifik). Mereka masing-masing akan mendapatkan hadiah satu unit Chromebook.

GSF adalah sebuah kompetisi sains online yang terbuka bagi pelajar berusia 13-18 tahun dari seluruh dunia melalui kerja sama dengan Lego Foundation, National Geographic, Scientific American, dan Virgin Galactic.

Celestine, seorang pelajar berusia 16 tahun dari British School di Jakarta, melakukan penelitian tentang 'Affordable non-invasive continuous blood glucose concentration monitoring via interferometry and thermal technology'.

Nicholas, seorang pelajar berusia 16 tahun dari SMA Cita Hati di Surabaya, mendaftarkan karya tentang 'Tetrahedral shoelace algorithm: Calculating the volume of irregular solids'.

Pada babak terakhir GSF, peserta akan diseleksi lagi menjadi 20 finalis perorangan/kelompok yang akan memenangkan kesempatan untuk mempresentasikan penelitian mereka di kantor pusat Google. Pemenang Hadiah Utama akan mendapatkan dana beasiswa sebesar 50.000 USD.

Selanjutnya Google Summer of Code (GsoC). Lima mahasiswa dari Indonesia diterima masuk ke program ini pada tahun 2019, meningkat dari tiga orang di tahun 2018. GSoC adalah sebuah program global yang bertujuan memperkenalkan semakin banyak pelajar ke dunia pengembangan software open-source.

Mereka akan bekerja di organisasi open-source dalam proyek pemrograman selama tiga bulan di masa liburan mereka. Mereka akan menerima uang saku, bertemu dengan orang-orang baru, mengembangkan keahlian baru, dan bekerja bersama para mentor dari seluruh dunia. Tahun Ini adalah tahun ke-15 dari program ini.

“Kami sangat bangga dengan prestasi anak-anak muda Indonesia ini,” demikian pernyataan Jason Tedjasukmana, Corporate Communications Head dari Google Indonesia, saat menyambut mereka di kantor Google Indonesia di Jakarta, Rabu (29/5).

“Kami merasa terinspirasi dengan semakin banyaknya pelajar Indonesia yang berkompetisi di ajang global dan ini adalah sebuah tren yang ingin terus Google dukung di masa mendatang. Kami mengucapkan selamat kepada para pelajar yang suatu saat akan mengubah dunia ini,” lanjutnya.

(rel/rzd)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar