Developer Muda Indonesia Maknai Kemerdekaan di Era Teknologi

Developer Muda Indonesia Maknai Kemerdekaan di Era Teknologi

Muh. Isfhani Ghiath (Ist)

(rel/rzd)

Minggu, 18 Agustus 2019 | 11:22

Analisadaily - Arti berjuang di masa kini mungkin akan berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan dulu. Berjuang masa kini, berarti berupaya menjawab tantangan dan permasalahan yang terjadi di sekitar kita.

Termasuk diantaranya upaya pemuda berdarah Makassar yang menjadi Developer Student Clubs (DSC) Lead di STT Terpadu Nurul Fikri Depok, yang mampu menciptakan aplikasi Android dan antivirus komputer yang dapat digunakan oleh orang banyak untuk menyelesaikan masalahnya.

Muh. Isfhani Ghiath, biasa disapa Isfha. Pria kelahiran Sungguminasa 22 tahun yang lalu ini sudah tertarik ke dunia programming sejak duduk di bangku SD. Rasa penasarannya yang tinggi berhasil membuat Isfha mampu menciptakan antivirus pada 2009-2010 saat menjadi pelajar SMP.

Spensav, antivirus ciptaan Isfha ini telah diunduh sekitar 500.000 pengguna dan berhasil membuatnya meraih beragam penghargaan, salah satunya Juara ll Asia-Pacific Information and Communication Technology Alliance Awards 2014.

Atas prestasinya itu, Isfha juga mendapat apresiasi dari Menteri Kominfo pada saat itu, Tifatul Sembiring, berupa laptop, yang kala itu menjadi laptop pertamanya.

Tak banyak yang tahu, Spensav awalnya adalah bentuk dari tanggung jawabnya. Saat duduk di bangku SD, Isfha tidak sengaja menjadikan komputer yang disewa ayahnya untuk bisnis percetakan terkena virus.

“Saya akhirnya berusaha keras mencari solusi atas masalah yang saya alami itu,” kata Isfha, dalam keterangan resi diperolah Analisadaily.com, Minggu (18/8).

Orang tua Isfha sempat melarangnya mengoperasikan komputer, namun ia tetap teguh untuk belajar secara otodidak dari internet. Setiap minggunya Isfha menyisihkan uang jajan dan pergi ke warung internet atau kerap disingkat warnet demi memenuhi hasrat keingintahuannya.

“Agar saya bisa menjawab hal yang dipertanyakannya selama ini, membasmi virus yang menjangkiti komputer ayah,” ujarnya.

Keberhasilan yang diraihnya saat itu, tak begitu saja membuat Isfha berbangga diri. Isfha semakin mendalami dunia programming dan memantapkan diri untuk mengambil jurusan informatika di STT Terpadu Nurul Fikri.

Tidak hanya belajar secara formal di bangku kuliah, Isfha turut mempraktikkan dan melakukan beragam uji coba aplikasi yang Ia ciptakan bersama teman-temannya di Developer Student Clubs (DSC).

Kini ada dua aplikasi yang masih terus dikembangkan oleh Isfha dan akan segera diperkenalkan kepada publik. Relieve, sebuah aplikasi food sharing yang menghubungkan restoran dengan komunitas food sharing yang nantinya akan membagikan kelebihan makanan kepada tunawisma.

Satu aplikasi lainnya yang sedang dikembangkan yaitu WeBlocker, sebuah aplikasi parental control yang akan memudahkan orang tua memantau aktivitas anaknya selama berselancar di internet baik melalui desktop maupun melalui smartphone.

Berkat kerja kerasnya dan keaktifannya di DSC dalam berbagi ilmu mengenai Android, pemrograman, dan sebagainya, Isfha mendapat kesempatan untuk datang ke Google I/O yang merupakan impian bagi developer di seluruh penjuru dunia dan ini adalah salah satu impian Isfha yang berhasil terwujud.

Siapa sangka yang awalnya hanya belajar secara otodidak dari bilik warnet, Isfha bisa belajar langsung dari perhelatan sang raksasa internet, Google I/O 2019.

“Menurut saya, makna kemerdekaan adalah mampu berkontribusi dalam kebermanfaatan untuk semua orang walau hanya sebaris kode,” ungkapnya.

(rel/rzd)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar